SuryoSusilo
media suka-suka untuk "kejar paket A" tentang dunia maya
Minggu, 25 Desember 2011
KUMPULAN KUTIPAN PERNYATAAN dan KOMENTAR DI HARIAN BERITA
(SAMBUNGAN DARI POSTINGAN YANG LALU)
6. Tentang perjalanan pendakian untuk mencari kesembuhan di Gunung Rinjani Nusa
Tenggara Barat, artikel Ekspedisi Cincin Api. Kepasrahan diri dan keinginan kuat
untuk sembuh mengalahkan rasa takut mereka. Penderitaan mereka seperti terbayar
tuntas. Bahmin dan Nuradi bisa berjalan sendiri saat pulang. Kompas edisi Sabtu,
17 Des 2011:
a. "Kami pasrah saja. Niat kami mencari pengobatan. Apapun yang akan terjadi kami
pasrah."
"Saya, ipar dan ayah, empat malam di sana. Kami berendam air panas sambil menutup
telinga karena gemuruh letusan sangat keras. Gemuruh itu sangat menakutkan,
tetapi kami bisa melalui ujian itu."
(Mahrim, pendaki tradisional/warga sekitar Gunung Rinjani)
7. Tentang kisah perjuangan TKW/TKI sektor pekerja rumah tangga dalam
menghasilkan/menambah devisa negara. Ia bekerja mulai pukul 04.30 sampai 23.00.
Setiap hari ia mengupas 24 kilogram kol dengan tangan. Kol itu dijadikan acar
menggunakan cabai, jeruk nipis, markisa, dan penyedap rasa. Kompas edisi Sabtu,
17 Des 2011:
a. "Kalau selesai, saya boleh makan satu mie rebus dan satu telor."
(Maizidah Salas, mantan TKW/aktif dalam organisasi advokasi TKW dan buruh)
8. Tentang kearifan lokal yang secara langsung menjaga kelestarian alam Hutan
Adat Mandala di lingkungan Taman Nasional Gunung Rinjani Nusa Tenggara Barat.
Kompas edisi Sabtu, 17 Des 2011:
"Inilah warisan leluhur yang coba kami pertahankan."
(Raden Palasari, Tokoh adat Bayan)
9. Tentang kecintaan akan keindonesiaan yang tumbuh dalam diri seorang desainer
busana, pernyataan ini merupakan jawaban atas pertanyaan Lila Noviastantri dari
Jakarta Timur, Kompas edisi Selasa 20 Des 2011:
"Dengan dasar cinta tanah air, jati diri dan identitas bangsa-itulah titik balik
saya untuk masa depan kita ditengah ombang-ambingnya zaman. Kembali temui jati
diri kita, kenali rasa cinta kita, bentuklah identitas untuk ke depannya, semua
akan berjalan seiring. Bisnis hanyalah sebuah matematika yang nantinya bisa
terformulasikan selama kita tahu akan tujuan diri kita. Tanah air kita adalah
kuncinya."
(Oscar Lawalata, Desainer Busana)
10. Tentang (masih) korupsi, pernyataan ini dilontarkan pada acara Refleksi
Pemberantasan Korupsi "Tembang Cinta Cak Nun Melawan Korupsi, Berani Jujur,
Berani Hebat"
"Setelah melakukan analisis terhadap laporan yang masuk dari Sabang sampai
Merauke, yang paling memilukan adalah korpusi sebagian besar justru bersumber
pada proses politik.Contoh yang paling jelas adalah pemilihan kepala daerah."
(Busyro Muqoddas, Ketua KPK)
11. Tentang pembangunan bangsa dan rasa kebangsaan, pernyataan ini dilontarkan
saat peluncuran memoar "Ben Mboi, Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja."
"Pemerintah hanya mengutamakan state building, bukan nation buliding. Padahal
nation building-lah yang paling penting karena membangun manusianya.
Kesalahpahaman inilah yang menjelaskan mengapa pemerintah gagal menangani
Papua.Karena tidak ada nation building, orang Papua tidak merasa bagian dari
Indonesia."
(Ben Mboi, Gubernur NTT 1978-1988)
12.Tentang (masih) pemberantasan korupsi, kekhawatiran banyak kalangan tentang
sejumlah kasus peninggalan jajaran pimpinan KPK jilid II.
"Jadi, jangan khawatir, tidak akan kami petieskan."
(Abraham Samad, Ketua KPK jilid III
KUMPULAN KUTIPAN PERNYATAAN DAN KOMENTAR DI HARIAN BERITA
Sebenarnya saya sudah lama ingin mengumpulkan atau lebih tepatnya berusaha
mendokumentasikan sebanyak-banyaknya pernyataan para tokoh, warga ataupun
masyarakat kebanyakan yang termuat pada harian berita/koran harian. Tentunya yang
menurut saya menarik untuk saya dokumentasikan. Baik dari sisi aktualitas, isi
atau bobot pernyataan. Penilaian tentang bobot pernyataan tentu sangat subyektif
menurut cara pandang, daya nalar dan pikiran saya sendiri. Namun alasan utama
keinginan saya ini adalah ada beberapa pernyataan yang menurut saya membuat
terperangah kagum dan beberapa ada yang membuat tertawa karena aneh dan lucu
(dari sisi bobot pernyataan atas permasalahan yang ada). Bahkan ada yang sudah
diluar kemampuan daya tangkap nalar saya.
Berikut ini pernyataan dan komentar tersebut. Selanjutnya akan saya perbanyak
semampu saya. Moga-moga saja saya tidak terjangkiti penyakit ML (males)...
he...he...he:
1. Tentang mafia anggaran di DPR, Harian RADAR Banjarmasin edisi Senin,19 Des
2011:
a. "Saya tidak mau menyebut nama, tapi sejumlah nama dan laporan lengkapnya ada.
Ada bukti transfernya yang disampaikan kepada kami. Ini adalah fakta yang tidak
terelakkan. jangan lagi dibantah bahwa tidak ada permainan mafia anggaran di
DPR."
"Bayangkan satu kali ngambil, miliaran rupiah. Dianggap apa uang ini, saya
sendiri (menganggap) ini diperas betul. Bajingan betul saya pikir orang-orang
ini."
(LA ODE IDA Wakil Ketua Dewan DPD dan Pos Pengaduan Mafia Anggaran (P2MA))
b. Menurutnya, pemberitaan mengenai adanya kontraktor yang meminta kembali
uangnya karena dana pembangunan percepatan infrastruktur daerah bidang
transmigrasi (DPPIT) yang dijanjikannya batal, hanyalah sebuah kesalahpahaman.
(Bantahan Andi Rachmat (AR) anggota DPR dari Demokrat)
2. Tentang rencana interpelasi DPR atas kebijakan pengetatan remisi bagi
narapidana korupsi, terorisme dan narkotika psikotropika yang dilakukan
KemhumHAM, Kompas edisi Senin,19 Des 2011:
a. "DPR mencari-cari alasan guna menyerang kebijakan pengetatan remisi koruptor.
Kami menolak interpelasi DPR tersebut karena kebijakan pengetatan remisi sudah
jalan dengan keinginan rakyat, tetapi kenapa DPR menjadi resistan.Kami menilai
wacana penggalangan interpelasi DPR ini lebih pada hitung-hitungan politik saja."
(Refky Saputra, peneliti ILR)
b. "Interpelasi tetap jalan karena sudah ada yang dirugikan akibat kebijakan
ini."
(Aziz Syamsudin, Wakil Ketua Komisi III DPR)
c. "Kami setuju adanya pengetatan remisi, bahkan jika perlu penghapusan remisi
untuk koruptor. Namun caranya harus benar, yaitu dengan mengubah dahulu peraturan
pemerintah atau undang-undang, bukan dengan sekedar telepon atau surat edaran
yang dibuat tanpa landasan hukum."
(Sarifudin Sudding, anggota Komisi III DPR dari Partai Hanura)
3. Tentang masyarakat yang semakin permisif dengan tindakan korup. Kompas edisi
Senin,19 Des 2011:
a. "Kalau mau buat efek jera, jangan dihadapkan pada proses penegakan hukum saja,
tetapi juga dihadapkan dengan seluruh komponen masyarakat, bagaimana masyarakat
dididik meninggalkan permisifisme dalam politik uang. Sekaligus juga parpol kita
ajak, silakan anda lakukan proses pilkada dan seterusnya, tetapi jangan
melakukan politik uang."
(Busryo Muqoddas, Wakil Ketua KPK)
b. " Ini, khan, luar biasa. Berarti masyarakat sendiri yang menyuburkan korupsi.
Bagaimana dia bisa jera kalau menyuburkan. Itu hampir terjadi di semua layanan
publik, mulai mengurus izin penyelenggaraan haji hingga mengurus SIM dan paspor
di imigrasi."
(M. Jasin, mantan wakil ketua KPK mengomentari survei pelayanan publik KPK)
4. Masih tentang rumor (katanya) mafia anggaran di DPR. Dugaan mafia anggaran
dari pusat sampai daerah. Eksekutif dan legislatif diduga ada yang menjadi bagian
mafia anggaran. Kompas edisi Selasa,20 Des 2011:
a. "Tetapi, sebagian besar berupa rumor. Kalau tidak tertangkap tangan, susah
dibuktikan."
( Harry Azhar Aziz, Wakil Ketua Komisi XI DPR.)
5. Tentang pesimistis soal Korea Utara, saat marak diberitakan kematian Pemimpin
Korea Utara Kim Jong Il, Kompas edisi 20 Des 2011:
"Yang saya anggap paling berbahaya adalah Korea Utara.Tampaknya yang berkuasa di
sana orang-orang yang kurang waras." "Bagaimanapun, sukar menyatukan rezim
otoriter yang kurang waras dengan negara demokratis."
(Vaclav Havel,pahlawan Revolusi Beludru zaman pemerintahan komunis di
Cekoslowakia/Presiden setelah tumbangnya era komunis di negara tersebut. Havel
sudah meninggal sebelum kematian Kim Jong Il)
(BERSAMBUNG)
Senin, 22 Agustus 2011
KALIMANTAN
Baru tadi pagi saya datang dari Pulau Kalimantan, tepatnya dari kota Barabai HST Kalimantan Selatan. Dalam rangka 'tour of duty'. Yah orang lapangan kerjanya pindah-pindah dimana ada job proyek langsung saja cabut..berangkat!!!. Sudah 2 minggu saya berada di sana dan itu pertama kali saya pergi ke Kalimantan. Namanya first time pasti banyak pengalaman atau kejadian yang baru.
Berangkat dari Malang 2 minggu lalu ke Juanda Surabaya untuk naik pesawat terbang (bukan pesawat telpon) flight paling pagi. Jadi Lumayan terburu-buru berangkat dari Malang. Mana bareng sama bos lagi. Jadi harus tampil sempurna. Tetapi bukan berarti harus ABS. Bukan singkatan Air Brake System tapi Asal Bapak Senang. Soal perjalanan pesawat tidak usah diceritakan karena tidak ada yang istimewa, sama seperti yang sudah-sudah. Pukul 07.15 wib take off menuju Banjarmasin. Sampai di sana langsung dilanjutkan perjalanan darat ke Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Waktu masih terhitung pagi setengah siang. Cuaca belum begitu panas. Lumayan... tidak terlalu gerah karena AC mobil tidak begitu dingin. Yup...perjalanan 160 km dimulai dengan start awal Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.
Mulailah mata ini celingukan melihat view selama perjalanan. Tidak sangka ternyata Kota Banjarmasin seramai ini. Padahal dari bandara ke Barabai itu hanya lewat jalan pinggiran kota Banjarmasin. Disusul kemudian kota satelit banjarbaru yang lagi menggeliat dan kemudian Martapura. Kota yang dahulu saat masih SD hanya bisa saya bayangkan saat guru geografi bercerita tentang intan. Ternyata keramaian tidak melulu monopoli kota-kota di Jawa. Jadi saya sadar dan percaya dengan Pak Rhenald Kasali ketika beliau menulis di koran, bahwa untuk berkembang dan membuka wawasan serta peluang harus melakukan perjalanan atau lebih tepatnya berkelana membuka cakrawala mata seluas-luasnya. Cuma dalam tulisan tersebut beliau mendorong untuk pergi ke luar negeri. Yah diambil mirip-miripnya saja. He..he... siapa tahu tahun depan bisa keluar negeri dan naik haji........Ups. Amien.
Kembali ke topik, setelah setengah perjalanan siang mulai bertambah panas. Matahari semakin ganas menyerang. Mobil ber-AC bobol juga pertahanannya. Wuiiih panasnya, Kalimantan yang terkenal karena hutannya ternyata bisa sepanas ini. Semakin jauh perjalanan view semakin rasa nano-nano. Dari kota-kota yang bergairah melakukan modernisasi berganti dengan pemandangan rumah-rumah panggung berbahan kayu. Heran saya adalah rumah di sana meski berusaha tampil dengan model lantai berkeramik fondasinya kebanyakan tetap bertipe panggung dari kayu. Salut dengan kekuatan kayu Kalimantan (saya yang bodho dan kuper kali ya). Dan saya juga melihat banyak kehidupan sosial yang timpang. Ternyata kesenjangan sosial tidak melulu di Jawa. Pulau Kalimantan yang kaya hasil tambang ternyata belum bisa memakmurkan rakyatnya. Pada lari kemana ya? Jawabannya mungkin tanya kepada Gayus.. dan tidak perlu dipusingkan. Bisa stress anda. Dan herannya selama perjalanan saya tidak nemu hutan sama sekali. Habis sudah harapan untuk melihat suasana hutan Kalimantan seperti yang ada di buku-buku pelajaran sekolah jaman dahulu dan yang ada tivi.
Setelah 4 jam perjalanan sampailah ke kota tujuan. Wuuiih...(lagi) panasnya. Mana puasa lagi. Teman-teman yang sudah tiba duluan 1,5 bulan yang lalu sudah berubah wajah dan perawakan. Item dan kurus. Kena sindrom Kalimantan. Maksudnya jauh dari rumah dan ditambah panas yang menyengat. Saya ketawa tanpa bisa ditahan. Saya tanya kesannya selama tinggal disana. Jawabannya hampir sama...bot-bote ngingoni anak bojo. Translatenya: dilakukan hanya satu tujuan yaitu untuk menghidupi keluarga di rumah. Setelah bicara dengan bos tentang rencana kerja dan apa yang harus dikerjakan di sana, mulailah saya mengalami 'pertarungan' yang sama melawan sindrom Kalimantan. Eh... saya bikin istilah terlalu serem.
Selama dua hari pertama.....wuuiih (lagi) adaptasi habis-habisan. Panas....mau minum..puasa bro. Jadi ya diakalin dengan sedikit-sedikit berteduh. Setelah beberapa hari lewat kulit wajah dan tangan sukses dan dengan sangat berhasil berubah menjadi hitam dan kalo orang jawa bilang 'kulu-kulu'. Wuuiiik..
Dan saya bersyukur terlahir jadi orang jawa karena bisa merasakan air sumur yang bersih tanpa harus melalui proses penjernihan dan penghilangan bau amis besi.
Dan sekarang saya lagi jeda dari pekerjaan karena mau hari raya Lebaran. Setelah Lebaran nanti Insya Allah sambung lagi. Semoga nanti bisa dapat pengalaman lagi yang bisa saya tuangkan dalam tulisan lagi. Untuk kenang-kenangan dalam hidup saya. Dan saya tidak kapok menjalaninya.
Bravo Kalimantan..
Berangkat dari Malang 2 minggu lalu ke Juanda Surabaya untuk naik pesawat terbang (bukan pesawat telpon) flight paling pagi. Jadi Lumayan terburu-buru berangkat dari Malang. Mana bareng sama bos lagi. Jadi harus tampil sempurna. Tetapi bukan berarti harus ABS. Bukan singkatan Air Brake System tapi Asal Bapak Senang. Soal perjalanan pesawat tidak usah diceritakan karena tidak ada yang istimewa, sama seperti yang sudah-sudah. Pukul 07.15 wib take off menuju Banjarmasin. Sampai di sana langsung dilanjutkan perjalanan darat ke Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Waktu masih terhitung pagi setengah siang. Cuaca belum begitu panas. Lumayan... tidak terlalu gerah karena AC mobil tidak begitu dingin. Yup...perjalanan 160 km dimulai dengan start awal Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.
Mulailah mata ini celingukan melihat view selama perjalanan. Tidak sangka ternyata Kota Banjarmasin seramai ini. Padahal dari bandara ke Barabai itu hanya lewat jalan pinggiran kota Banjarmasin. Disusul kemudian kota satelit banjarbaru yang lagi menggeliat dan kemudian Martapura. Kota yang dahulu saat masih SD hanya bisa saya bayangkan saat guru geografi bercerita tentang intan. Ternyata keramaian tidak melulu monopoli kota-kota di Jawa. Jadi saya sadar dan percaya dengan Pak Rhenald Kasali ketika beliau menulis di koran, bahwa untuk berkembang dan membuka wawasan serta peluang harus melakukan perjalanan atau lebih tepatnya berkelana membuka cakrawala mata seluas-luasnya. Cuma dalam tulisan tersebut beliau mendorong untuk pergi ke luar negeri. Yah diambil mirip-miripnya saja. He..he... siapa tahu tahun depan bisa keluar negeri dan naik haji........Ups. Amien.
Kembali ke topik, setelah setengah perjalanan siang mulai bertambah panas. Matahari semakin ganas menyerang. Mobil ber-AC bobol juga pertahanannya. Wuiiih panasnya, Kalimantan yang terkenal karena hutannya ternyata bisa sepanas ini. Semakin jauh perjalanan view semakin rasa nano-nano. Dari kota-kota yang bergairah melakukan modernisasi berganti dengan pemandangan rumah-rumah panggung berbahan kayu. Heran saya adalah rumah di sana meski berusaha tampil dengan model lantai berkeramik fondasinya kebanyakan tetap bertipe panggung dari kayu. Salut dengan kekuatan kayu Kalimantan (saya yang bodho dan kuper kali ya). Dan saya juga melihat banyak kehidupan sosial yang timpang. Ternyata kesenjangan sosial tidak melulu di Jawa. Pulau Kalimantan yang kaya hasil tambang ternyata belum bisa memakmurkan rakyatnya. Pada lari kemana ya? Jawabannya mungkin tanya kepada Gayus.. dan tidak perlu dipusingkan. Bisa stress anda. Dan herannya selama perjalanan saya tidak nemu hutan sama sekali. Habis sudah harapan untuk melihat suasana hutan Kalimantan seperti yang ada di buku-buku pelajaran sekolah jaman dahulu dan yang ada tivi.
Setelah 4 jam perjalanan sampailah ke kota tujuan. Wuuiih...(lagi) panasnya. Mana puasa lagi. Teman-teman yang sudah tiba duluan 1,5 bulan yang lalu sudah berubah wajah dan perawakan. Item dan kurus. Kena sindrom Kalimantan. Maksudnya jauh dari rumah dan ditambah panas yang menyengat. Saya ketawa tanpa bisa ditahan. Saya tanya kesannya selama tinggal disana. Jawabannya hampir sama...bot-bote ngingoni anak bojo. Translatenya: dilakukan hanya satu tujuan yaitu untuk menghidupi keluarga di rumah. Setelah bicara dengan bos tentang rencana kerja dan apa yang harus dikerjakan di sana, mulailah saya mengalami 'pertarungan' yang sama melawan sindrom Kalimantan. Eh... saya bikin istilah terlalu serem.
Selama dua hari pertama.....wuuiih (lagi) adaptasi habis-habisan. Panas....mau minum..puasa bro. Jadi ya diakalin dengan sedikit-sedikit berteduh. Setelah beberapa hari lewat kulit wajah dan tangan sukses dan dengan sangat berhasil berubah menjadi hitam dan kalo orang jawa bilang 'kulu-kulu'. Wuuiiik..
Dan saya bersyukur terlahir jadi orang jawa karena bisa merasakan air sumur yang bersih tanpa harus melalui proses penjernihan dan penghilangan bau amis besi.
Dan sekarang saya lagi jeda dari pekerjaan karena mau hari raya Lebaran. Setelah Lebaran nanti Insya Allah sambung lagi. Semoga nanti bisa dapat pengalaman lagi yang bisa saya tuangkan dalam tulisan lagi. Untuk kenang-kenangan dalam hidup saya. Dan saya tidak kapok menjalaninya.
Bravo Kalimantan..
Langganan:
Entri (Atom)